Si Tambun dan Si Enteng
http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http%3A%2F%2
Dahulu kala, konon katanya segala
binatang pandai bercakap – cakap seperti manusia. Ketika itulah hidup berjenis
– jenis kepiting di pulau beribu. Suatu hari, berjalanlah si Entengmencari
makanannya dan dengan tidak di sadari si Enteng lewat di depan si Tambun.
Mereka adalah kedua jenis kepiting yang berbeda bentuk dan rupanya. Enteng
bertubuh kecil kerempeng, kakinya kecil
tetapi tungkainya panjang – panjang jadi Entengg bisa berjalan dengan amat
sangat cepat di banding jenis kepiting lainya. Sedangkan si Tambun bertubuh
kecil dan sangat gempal, kakinya pendek – pendek, dan si Tambun memiliki kulit
yang bintik – bintik merah, dan karena tubuhnya yang gembal dan kakinya yang kecil
dan ruasnya sangat pendek – pendek itu membuat jalan nya sangat lambat
dibandingkan dengan kepiting – kepiting lainnya yang tinggal pantai dan laut di
sekitaran pulau beribu.
“cekreeesss....
cekkkreeeeessssss.... kresssss...... kreeeesssssssst... cekkkrreeess” Enteng
berjalan sangat cepat sekali, dia sedang berjalan untuk mencari makanannya dia
sangat gesit dan rajin dalam mencari makan.” Kkrruuuk... kraaauuk... krauk..
nyaaam.. nyamm... nyaaammmm” ia pun selalu makan dengan dengan keadaan hati
riang gembira tetapi saking senang dan gembiranya ia makan sehingga dia kurang
memperhatikan teman – temannya yang ada di kanan dan kiri lagi.
“ haaaiiiii.... kau Enteng!” bentak
si Tambun dengan nada agak tersinggung dengan kelakuan si Enteng, yang sejak
tadi diperhatikan oleh si Tambun, Tambun menggerutu dan merasa sangat iri hati
melihat si Enteng yang sedang makandengan lahap dan terlihat sangat mudah
mendapatkan makannya yang saat itu ada di dekat dirinya itu. Sedang kan dirinya
sendiri sekalipun belum mendapatkan satupun makanan karena ketika si Tambun
melihat makanannya selalu keduluan oleh si Enteng walaupun tambun sudah
merusaha secepat mungkin untuk menangkap makanan itu dan pada akhirnya Tambun
tidak mendapat makanan sedikitpun ketika itu. Karena hati Tambun masih
menggerutu, Tambun akhirnya berkata lagi kepada Enteng “ sombong sekali
kelakuanmu Enteng, lewat depan muka aku tanpa melihat ku atau bersalaman dan
bertegur sapa dengan ku, pantas sajah tubuh mu masih kecil – kecil saja tidak
pernah gemuk – gemuk walaupun kamu makan berkeranjang – keranjangpun. Kakimu
kecil dan panjang – panjang serti hantu laut kosong sajah. Huuuuiiiiiii......
jelek! Sungguh sangat kau sangat tidak mempunyai adat. Cari saja sana makanan
untuk mu di dekat tempat tinggal mu sajah, tidak sopan kau mencari makanan di
dekat tempat tinggalku dengan cara seperti itu, karena itu juga sangat tidak
sopan sekali. Dasar kau kepiting jelek dan bau, jauh – jauhlah kau dari
tempatku.”
Si Tambun memaki Enteng dengan kata
– kata seperti itu. Enteng sangat kaget dan tercengang dengan perkataan Tambun
tadi. Enteng pun kemudian berbalik dan memandangi Tambun yang sejak tadi masih
memaki dirinya dengan kata – kata yang tidak sopan yang sangat menghina dirinya.
Lalu Entengpun memandang Tambun seraya berkata “ hai kau kepiting gendut !
sekalipun tubuhku kecil sangat kerempeng dan memiliki kaki yang kecil dengan
tuas kaki yang panjang – panjang yang katamu itu mirip dengan hantu laut
kosong, setidaknya aku tidak pernah menyusahkan hewan lain. Aku masih bisa
hidup dan sanggup mencari makan sendiri, tidak sepertimu yang pempunyai perut
buncit, muka bulat, dungu, yang hanya sukanya mengata – ngatai hewan lain
sajah.”
Si
kepiting Tambun membelalakan matanya yang besar dan bulat itu, lalu ia memaki Enteng
kembali dengan membentak – bentang Enteng dengan Kasar, “ Sudah mulai pintar
kau sekarang membentak – bentak aku yah, dasar kau kepiting kerempeng berkaki
panjang. Sadar dirilah sedikit kau kepiting kerempeng, kau ini mencari makan di
tempatku!”
“Hai,,,,, kau kepiting Tambun,” jawab
si Enteng, “bukankan lingkungan pantai pulau beribu ini milik kita bersama?
Semua banga kepiting manapun bisa mencari makanan di sekitar lingkungan pantai
pulau beribu ini bukan? Bukan hanya engkau sendiri saja yang berhak mencari
makanan di sekitar lingkungan pantai pulai beribu ini, wahai kau kepiting
tambun yang sombong!”.
“Dasar kau kepiting Enteng tak tau
diri, berani sekali kau berbicara seperti itu kepada ku!” jawab si kepiting
tambun dengan nada sangat keras dan kasar dan sambil berjalan mendekati si
kepiting Enteng. Lalu kepitinga Tambun melanjutkan makiannya dengan
membelalakan matanya yang besar dan bulat di hadapan muka si kepiting Enteng,
dengan nada bicara yang sedikit berbisik dengan sinis tepat di dekat telingan
si kepiting Enteng “cepat – cepatlah kau pergi dari tempat ini sebelum akau
melaporkan engkau kepada teman temanku.” Tambun berbisik dengan setengah
mengancam, “jika kau belum sajah pergi dari lingkungan ini, Wahai kau kepiting
kerempeng yang sangat jelek!” lanjutnya “ Karena ulahmu yang seperti orang
rakus mencari makanan disini, di lingkungan kekuasaan kami para kepiting –
kepiting tambun, pencarian makanan kami semakin menyusut dan hampir tidak ada
gara – gara kalian!” bentak si tambut kepada si Enteng.
Karena tidak tahan dengan cacian dan
makian si kepiting tambun, akhirnya si kepiting Entengpun pergi jauh dari
tempat tadi, dia kembali pulang ke lingkungan asal ia tinggal. Namun setelah
beberapa bulan lamanya kedua kepiting tersebut bertemu kembali. Namun bedanya
pertemuan antara si kepiting tambun dan kepiting Enteng berbeda, kali ini si
kepiting Tambun sedang mencari makanan berasa teman – temannya di lingkungan
pantai tersebut, tetapi ini pantai yang berbeda bukan pantai pulau beribu yang
sewaktu dulu mereka berseteru, melainkan ini adalah pantai baru yaitu pantai
pulau kosong. Jadi posisi si kepiting Enteng yang saat ini merasa terkepung
keberadaannya oleh para grombolan teman si kepiting Tambun. Karna kepiting
Enteng merasa terjepit, si kepiting Enteng memanfaatkan kakinya yang kecil dan
panjang – panjang itu untuk menarik badanya yang kecil itu berlari sekencang –
kencangnya untuk meninggalkan gerombolan teman – teman kepiting tambun yang
sedari tadi terus – terusan memojokkan si kepiting Enteng. Wuuuussss.....
wuuussss.... krek,,,, kreeekkk,,,, kressss,,,,, begitulah suara ia berrlari
dengan kencang meninggalkan mereka dengan cepat – cepat. “ piuh.....akhirnya
aku bisa lari dari mereka.” Ujar si kepiting Enteng dengan napas yang sangat
terenggah – enggah akibat tadi dia berlari dengan sangat kecangnya untuk
menghindari Tambun dan teman – temannya itu. Kepiting Enteng mulai merasa sedih
sekali, “Kenapa yaahh..aku ini sagat di bencing oleh si kepiting tambun itu?”
sambil dia berpikir dalam keadaan capek dan dengan napas tersenggal – senggal
dan dengan keadaannya yang sangat pusing sekali. Lalu saat itu juga kepiting
Enteng itu pingsan di tempat itu karena ia merasa pusing akibat tadi dia sama
sekali belum makan dan hanya mendapata bulian dan cacian dari Tambun dan teman
– temannya, di tambah lagi tadi ia berlagi sangat kencang untuk meninggalkan
mereka.
Ketika itu lewatlah burung – burung
pantai di bernama belekok, belekok sangat kaget melihat seekor kepiting yang
tergeletak di antara semak – semak ilalang di pinggiran pantai pulau kosong
itu. Lalu belekok berusaha membangunkan Enteng dengan berbagai cara dan setelah
beberpa lama belekok berusaha akhirnya Enteng bangun juga, ia langsung duduk
termenung dengan wajah pucatnya akibat lapar dan bersedih, akhirnya belekok
pergi sebentar untuk mencarikan Enteng sedikit makanan dan minuman agar
tubuhnya merasa segar kembali. Tidak beberapa lama belekok kembali dengan
membawa sedikit makanan dan ait untuk minum, “Bangun dulu wahai kawan baruku,
lekaslah makan makanan dan minuman yang aku bawakan untukmu ini.” Sambil
memberikan makanan kepada si Enteng, lalu ia melanjutkan sarannya agar Enteng
seger makan “Ayolah makan sobat, agar tubuhmu segar kembali.”. Belekok mulai
menyadari keadaan Enteng saat itu dan mulai menyapa kepiting Enteng, “ Hai,
sobat. Kenapa engkau kelihatan sangat bersedih?”
“Kepalaku pusing,” sahut Enteng.
“Aku memikirkan keadaan aku dengan kepiting tambun, sekarang pertemananku
dengan dia sudah kacau – balau karena kami sering berseteru dengan maslah
tempat wilayah mencari makanan. Kami berdua tidak ada kecocokan di antara kami
masing – masing. Sementara aku ingin mempunyai penengah yang bisa mendamaikan
kami berdua, namun aku tidak memilikinya. Si kepiting Tambun kerjaannya hanya
marah – marah sama aku.” Ceritanya dengan nada sangat bersedih. “ dia selalu
menuduhku mengganggu makanan yang ada di tempat tinggalnya, dia selalu
mencaciku, padahal itu semua karena aku yang lebih rajin dari dia, wajar saja
bukan jika rezeki makanku lebih banyak dari si Tambun?” tanyanya kepada belekok
teman yang baru di kenalnya tadi.
Dengan seksama belekok mendengarkan
curhatan Enteng yang sedang bersedih meratapi nasibnya yang selalu di musuhi
oleh Tambun. Dengan arif dan bijak sana belekok memberikan saran kepada Enteng.
“ Eeehhhhmmmm........ sepertinya berat sekali masalahmu itu wahai kepiting
Enteng.” Lanjutnya “ Sekarang aku mengetahui apa masalahmu sehingga kamu
kelihatan sangat bersedih, kalian bangsa kepiting rupanya harus aku pertemukan
kalian dengan raja kepiting, agar kalian bisa menyelesaikan masalah kalian
sehingga mendapatkan penyelesaian yang baik bagi kalian semua agar kalian tidak
lagi harus selalu berseteru seperti ini terus menerus”. Ujarnya dengan sangat
bijaksana.
Kata belekok melanjutkan “ Sekarang
ku nasihati engkau wahai sobatku kepiting Enteng, sebaiknya engkau sekarang
menghadap kepada raja kalian raja kepiting Kepit di istananya di dekat hutan
bakau sana. Ceritakanlah pada raja Kepit, tentang perselisihan yang selalu kau
alami dengan kepiting Tambun temanmu itu, apa saja yang terjadi selama ini di
antara kalian berdua.”
Singkat cerita, setelah beberapa
bulan pertemuan antara kepiting Enteg dengan burung bijak sana yang bernama
belekok itu akhirnya Enteng mengikuti saran Dari belekok dan akhirnya ia datang
ke istana raja Kepit yang megah yang berada di dekat hitang bakau yang berada
di dekat tepian pantai pulai beribu. Ia mengadukan segala nasibnya yang selalu
di caci dan di maki oleh temanya si kepiting Tambun.
Setelah raja mengetahui duduk
masalah antara kepiting Enteng dan kepiting Tambun, di panggilan kepiting
Tambun oleh sang raja untuk menghadap pula ke kerajaan raja Kepit. Datanglah
Tambun ke kerajaan raja Kepit. Namun di hadapan raja Kepit, kepiting Tambun
mengelak tiak mengakuinya, “ Enteng yang sebenarnya bersalah. Dia mengejek –
ejek bangsa kami sebagai bangsa kepiting yang pemalas, bukan bangsaku yang
mengejek bangsa Enteng, tetapi malah sebaliknya baginda.”
Dan untunglah pada saat persidangan
di mulai datang si burung belekok, dan ia bersedia untuk dijadikan saksi dalam
masalah yang menimpa kepiting Enteng dan kepiting Tambun. “Bukan Enteng yang
berulah wahai baginda raja Kepit. Tetapi justru kepiting Tambunlah sendiri yang
selalu mengata – ngatai kepiting Enteng itu. Memng si Tambun selain suka
mencaci Ia juga suka berbohong tuanku raja Kepit.”
Setelah mendengar kesaksian dari
burung belekok baginda raja Kepitpun sangat murka, “ Baik dengan begitu kalo
memang betul ceritanya seperti itu, saya putuskan bahwa kalian tidak boleh
tinggal dalam satu lingkungan, karena kalian tidak bisa hidup berdampingan
saling membatu satu sama lainnya maka dengan ini aku putuskan kalian harus
hidup berpisah. Bangsa keppiting harus saya hukum.”
“Apa hukumannya, Tuanku raja Kepit?”
ujar Enteng yang merasa tidak mempunyai rasa bersalah, dengan memberanikan diri
bertanya pada sang raja, “ Tolong Tuanku Baginda jara Kepit jelaskan apa
hukuman buat kami bahsa kepiting ini tuan. Aammpuuuunnnn..... tuan ampun
maafkan hamba dan bangsa kepiting lainnya tuanku aaammmppuunnn.”
“Dengarkanlah oleh kalian semua
banya kepiting semua! Mulai saat ini, saya larang bangsa kepiting Tambun untuk
naik ke daratan, dan tinggallah kalian di laut pasir yang sangat dalam sana!”
lanjutnya “ dan kalian bangsa kepiting Enteng aku perbolehkan engkau mencari
makanan di daratan sana.”
Lanjutnya lagi “ kepiting Enteng
telah mengingatkan saya sebagai raja agar bisa lebih adil kepada rakyat –
rakyatku bansa kepiting semua agar mereka bisa hidup lebih aman dan nyaman.
Maka kenapa aku memperbolekkan engkau waahai kepiting Enteng untuk hidup di
laut dan di darat sampai turun – temurun...... hingga ke anak dan cucumu
kelak!”
Konon ceritanya sejak itulah
kepiting Enteng hidup dalaam dua alam, yaitu laut dan darat, sedangka kepiting
Tambun tetap tinggal di dalam lautan selamanya.
Selesai......
Komentar
Posting Komentar